Selasa, 23 Juni 2009

JAWABAN UAS NAQD AL-ADAB


CANTUMKAN DI SINI JAWABAN UAS NAQD AL-ADAB

17 komentar:

  1. 1.
    an-naqdul al-lughawi
    sesungguhnya orang arab memiliki hubungan erat dengan rahasia kebahasaannya. bukti rahasia itu dapat ditemukan dalam kata-kata yang digunakan para penyair. seperti sindiran, terkait antara denotasi dan konotasinya. seperti Tharafat bin 'Abd yang mencela musib bin 'Alas.

    naqd ma'na wa usluub
    sesungguhnya bangsa arab, dalam berbahasa mempunyai insting yang kuat, dan lembut dalam berbahasa. dalam menggunakan kata-katanya itu berdasarkan tabiat dan wataknya. ekspresi itu diungkapkan tentang dzat-dzatnya, perasaannya, pengahargaan,perumpamaan, lingkungan dan tabiat disekelilingnya. maka dari itu, ma'na bahasa diungkapakan sesuai dengan keadaan hatinya.

    al-naqd al-'arudli
    syair arab tumbuh berkembang dengan pengumpulan dan susunan bait syair, dan berkaitan dalam bahr dan qasidah.

    2. penilaian ummu jundub tentang al-qamah dan imrul qais:
    bahwa imrul qais dalam membuat syair digambarkan dengan kudanya yang belum mahir dalam sifat kudanya, sebagaimana Alqamah kira-kira bahwa imrul qais lari cepat kudanya dengan cambukannya. dan gerakannya menggiringnya. mencegah suaranya.
    tetapi Al-Qamah menyusul menjauhkannya dan dia memegang tali kekang kudanya dan tidak mencambuknya, dan tidak memukulnya dengan cambuk, dan tidak menggiring dengan keras, dan tidak mencegah dengan lafadznya.

    3. karena syair pada masa jahiliyah sangat terkenal, bahkan para penyair yang membuat syair bagus digantungkan hasil karya nya di dinding ka'bah, fenomena syair itu sangat terkenal, bahkan bangsa arab mempunyai kebiasaan dalam bersyair.syair-syair dari penyair-penyair yang hidup di masa jahiliyah menjadi sumber yang terpenting bagi sejarah bangsa Arab sebelum Islam, syait-syair ini menggambarkan kondisi pada masajahiliyah.
    sedangkan al-naqd al-natsr tidak begitu penting dalam masyarakat jahiliyah.

    BalasHapus
  2. Nama : Imas Tini Sholihat
    NPM : 1809.1006.0005

    1.Orientasi Naqd Adab masa jahiliyyah
    •Naqd Al-lughowi
    Orang arab erat kaitannya dengan rahasia bahasa (seluk beluk kebahasaannya) ia memahami arti/pengertian suatu kata. Ketika seorang penyair menggunakan kata-kata yang jauh, bukan dari apa yang biasanya dan tanpa ada kaitannya dengan selainnya, orang Arab langsung merasakannya dan spontan langsung memberitahukannya, sebagai contoh : ketika seseorang mendeskripsikan الجملdengan الصيعرية
    •Naqd al-ma’na wa al-uslub
    Orang Arab yang erat kaitannya dengan kebahasaannya berjalan dalam penggunaannya dengan keasliannya. Bahasa bisa juga sebagai ekspresi pengucapnya, bila kata dan makna sesuai berarti ia benar. Akan tetapi meskipun sebaliknya kandungan makna dan pengungkapannya itu jauh dari apa yang dimaksudkan orang arab tidak membenarkannya sebagaimana hal nya dalam hal kebahasaan.
    •Naqd al-‘arudhi
    Berkaitan dengan bunyi dan suara pada syair, juga bahr dengan qasidah-qasidah pada masa islam dilakukan pengkodifikasian syair-syair lama. Untuk mengetahui shohih atau tidaknya syair tersebut.

    2.Tafsir Al-Quran surah Asy-Syu’ara ayat 223 yaitu bukan berarti mencela para penyair sekaligus mengharamkan syair, akan tetapi untuk menjelaskan bahwasanya penyair itu ada yang sesat dan menyesatkan. Para penyair yang menyesatkan yaitu mereka yang menggunakan sya’irnya hanya untuk berdusta, mencaci maki, baik agama maupun diri mereka sendiri. Sedangkan penyair beriman yaitu para penyair yang menggunakan syairnya untuk membela agama Alloh dan Rasul mereka berkata benar dan tidak berdusta. Salah satu contoh penyair yang mengikuti hawa nafsunya adalah Imru al-Qois
    ويوم عقرت للعدرى مطيتي
    فياعجبا من كورها المتحمل
    وبيضة حذر لايرام خباؤها
    تمتعت من لهوبها غير معجل
    Dan pada hari ini aku sembelih kendaraanku untuk gadis-gadis
    Duhai indahnya sekedup unta yang membawa
    Putihnya gadis tak diinginkan untuk di tutup
    Aku bersenang-senang bermain dengannya tanpa tergesa-gesa.

    Sedangkan penyair yang beriman seperti contoh Hasan bin Tsabit
    لَقَدْ لَعَنَ الرّحمنُ جَمْعاً يقودُهُم
    دعيُّ بني شجعٍ لحربِ محمدِ
    Sungguh yang maha Rahman telah mengutus semua pasukan mereka
    Bangunlah keberanian untuk menolong Muhammad


    3.Fenomena naqd al-syi’ir lebih dulu muncul dari pada naqd Al-natsr adalah karena keberadaan syair pada waktu itu merupakan puncak dari peradaban bahasa di dunia Arab. Sehingga membuat mereka tertarik untuk mendengarkannya dan memperhatikannya dengan seksama karena ketertarikan dan perhatian yang sangat besar serta pemahaman mereka terhadap sya’ir, ketika terjadi kesalahan pada sya’ir mereka langsung mengkritiknya. Terlebih sifat mengkritik mereka lahir dari sifat Dzauk al-fitri yang sudah menjadi tabi’at mereka. Hal tersebut diperkuat dengan riwayat yang ada bahwa naqd al-syi’ir lebih dulu muncul dari pada naqd Al-natsr.
    2009 Juni 19 03:36

    BalasHapus
  3. Nama : Ema Rahmawati
    NPM : 1809 1006 0047

    1.Dalam QS. Asy-syu’ara Allah berfirman tentang peringatan kepada penyair-penyair, dalam ayat 223 ”Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta yang penuh dosa” penjelasan ayat tersebut selanjutnya dipertegas lagi pada ayat setelahnya (224) “dan penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat”. Karena karya sastra pada masyarakat jahili bukan untaian kata-kata tanpa makna (absurd) melainkan sabagai sarana (sakral) yang ampuh untuk membakar semangat, meredam emosi dan menjadikan kebanggaan dengan mengharumkan nama kabilahnya. Dalam ayat ini dijelaskan pula bahwa sebagian penyair-penyair Arab suka mempermainkan kata-kata dan tidak mempunyai tujuan yang baik, yang tertentu dan tidak mempunyai pendirian, serta mereka seringkali mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan (ayat 226). Islam tidak melenyapkan puisi, namun mengubah makna dan perannya agar tunduk pada system Islam. Perannya dibatasi sebagai perkakas agama (Islam). Seperti dipertegas pada kutipan ayat setelahnya yaitu 227: “kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan beramal shaleh dan banyak menyebut nama Allah …….”Contoh penyair yang dengan tema syairnya membanggakan diri dengan kelebihan yang dimilikinya. Seperti syair yang diungkapkan oleh Rabi’ah bin Maqrum saat ia memamerkan kelebihan yang ada pada dirinya, syairnya berbunyi:
    وان تسألينى فاني امرؤ # أهين اللئيم و أحبو الكريما
    وأبني المعالي بالمكرما # ت وأرضى الخليل وأروى النديم
    Jika engkau bertanya kepadaku
    aku membenci orang hina
    aku mendekati orang mulia
    Aku membangun tempat terhormat
    dengan sifat-sifat kemuliaan
    aku menyukai sahabat
    dan memberi minum teman minum

    dan syair Abu Al-Najm Al-Ajli ketika mengejek Al-Ajjaj berikut dalam syairnya:
    انى وكل شاعر من البشر # شيطانه أنثى و شيطانى ذكر
    Aku dan semua penyair sama-sama manusia
    Tetapi ia setannya seorang perempuan
    Dan setanku seorang laki-laki

    Begitu pula Umru’ Al-Qais dalam syairnya yang menggambarkan kecantikan kekasihnya, Unaizah, yaitu:
    نهفهفه بيضاء غير مفاضه # ترائبها مصقوله كالسجنجل
    وجيد كجيد الرئم ليس بفاحش # اذا هي نصته ولابمتعطل
    وفرع يزين المتن أسود فاحم # انيت كقنوالنخلة المتعثكل
    Wanita itu langsing
    Perutnya ramping
    Dan dadanya putih bagaikan kaca
    Lehernya jenjang
    Seperti lehernya kijang
    Jika dipanjangkan tidak bercacat sedikit pun
    Karena lehernya dipenuhi kalung permata
    Rambutnya yang panjang
    Lagi hitam pirang
    Bila terurai dibahunya
    Bagaikan mayang kurma
    Ketiga contoh syair diatas tidak sejalan dengan aturan agama Islam yang melindungi dan menjunjung tinggi kehormatan wanita, tidak berlaku congkak dan mencaci sesama.
    Sedangkan contoh syair yang menarik pada masa permulaan Islam adalah tentang dakwah yang banyak dikumandangkan oleh Hassan bin Tsabit, ka’ab bin Malik, Abdullah bin Rawahah dll. Seperti contoh saat Bajir Bin Abi Sulma merayu saudaranya Ka’ab untuk masuk Islam, ia mengumandangkan beberapa bait syair yang menyentuh hati Ka’ab sehingga masuk Islam, yaitu:
    الى الله لا العزلى ولا اللات وحده # فتنجوا اذا كان النجاء وتسلم
    لدى يوم لاينجو وليس بمفلت # من النار الا طاهر القلب مسلم
    فدين زهير وهو لاشيئ باطل # ودين أبي سلمى علي محرم
    Hanya kepada Allah-lah
    Bukan kepada Uzza dan Latta, engkau akan selamat
    Kaselamatan itu terjadi ketika engkau masuk Islam
    Pada hari kiamat
    Semua tidak bisa selamat dan bebas dari api neraka
    Kecuali orang-orang yang bersih hatiya, menjadi muslim
    Agama Zuhair adalah agama yang batal
    Dan agama Abi Sulma haram bagiku

    BalasHapus
  4. LANJUTAN JAWABAN EMA no 2
    2). Kritik (naqd) sastra adalah memberikan penilaian terhadap karya sastra secara benar serta menjelaskan nilai dan kualitas sastranya. Para sastrawan, kritikus sastra dan sejarawan dalam memberikan penilaian terhadap keshahihan sanad dan matan karya sastra pada prinsipnya mengikuti jejak atau metode seperti yang dikembangkan para ahli hadits. Sehingga ada yang mengumpulkan dalam satu koleksi yang kemudian disebut dengan Diwan (antologi).Naqd adab adalah kritik untuk membuat aturan yang digunakkan dalam suatu karya sastra Kriteria-kriteria karitik sastra pada masa sadrul islam mengalami kemajuan karena pada saat Islamlah seiring dengan penulisan dan pengumpulan al-quran yang mulai mendapat perhatian besar dari kalangan pilolog pada waktu ini ternyata mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan sastra dan kritik sastra, khususnya dalam pengumpulan karya-karya sastra lama berupa puisi dan falklor. Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui besarnya pengaruh Al-quran terhadap sastra.
    Kriteria-kriteria yang masih ada, dipertahankan dan diperbaharui pada masa shodrul islam adalah Kalam (bahasa), ma’na (gagasan), wazan (irama), qafiyah ( sajak), khayal (imajinasi), dan qhasad (sengaja)
    ◊ Kalam artinya bahasa. Sangat jelas kriteria ini tidak dapat dilepaskan dari sastra, karena bahasa merupakna media utama suatu karya sastra.
    ◊ Ma’na dan gagasan atau ide. Gagasan atau ide merupakan unsur batin (dalam) syair. Para kritikus sastra menamakan gagasan ini dengan istilah fakta, yang dalam bahasa arab disebut dengan الحقيقة dan juga mereka menamakan dengan kebenaran ((الصواب Dikatakan fakta, karena syair mengandung peristiwa atau kejadian yang benar-benar dijumpai dalam kehidupan nyata. Dengan demikian syair dengan tema apapun merupakan ungkapan dari sebuah realitas yang ditulis dengan beragam tujuan. Sekalipun syair merupakan karya sastra yang didalamnya terkandung unsur imajinasi, tetap pada kenyataan nya ia tidak terlepas dari fenomena yang ada. Artinya syair mengandung nilai kebenaran, bukan kebohongan semata. Pada umumnya, gagasan dalam karya sastra banyak dipengarhi oleh faktor-faktor yang berada diluar, misalnya keadaan social perkambangan politik, budaya, dan bahkan juga diwarnai oleh factor sejarah dan pisikologis pengarang. Misalnya, sebelum islam datang budaya minum khamar dikalangan masyarakat Arab menjadi kbiasaaan sehari-hari, juga psikologis mereka pada saat kalah dan menang dalam peperangan membawa dampak yang luar biasa dalam kewibawaan kabilahnya. Sehingga peran penyair/Sastrawan memiliki peran penting, maka tak heran karya sastra jahiliah banyak didominasi tema-tema seperti Al-hamasah (syair-syair tentang keberanian, kekuatan), Al-hija’ ( syair tentang kebencian atau ketidaksukaan), Al-madah (tentang pujian) dan Al-risa (syair yang mengungkapkan kesedihan, putus asa, dan kepedihan), dan kemudian pada permulaan Islam terdapat tema-tema dakwah yaitu Al-da’wah wa Al-futuh Al-Islamiyah (syair-syair dakwah dan kemenangan islam) karena banyak juga para penyair yang memeluk agama Islam.

    BalasHapus
  5. anjutan no 2 dan jawaban no 3
    ◊ Wazan pada masa jahiliyah telah ada dan selanjutnya mengalami perkembangan pada masa shadrul islam. Wazan berarti keseimbangan. Yaitu pengulangan bunyi yang sama pada setiap akhir bait dari bait-bait syair. Setiap bait syair terdiri dar dua bagian dengan wazan yang sama. Wazan-wazan ini dalam ilmu sastra arab dikenal dengan istilah bahr yang berjumlah 16.
    ◊ Qafiyah adalah kata akhir dari sebuah bait syair. Yaitu dua sukun yang berada pada akhir bait syair termasuk huruf-huruf hidup (berharakat) dan termasuk pula huruf hidup sebelum sukun pertama. Dalam qafiyah ada yang disebut dengan rawi, yaitu huruf akhir yang terbaca dalam bait syair. Hal ini kemudian dijadikan dasar untuk menyebut jenis qasidah, seperti kasidah lamiyyat dan siniyyat karena rawinya berupa huruf lam dan sin.
    ◊ Khayalatau imajinasi adalah daya saing, daya frustasi, tapi bukan lamunan. Ia tetap berpangkal pada kenyataan-kenyataan dan pengalaman-pengalaman.
    Dalam sastra arab, imajinasi ini tampak pada ungkapan yang berbentuk Tasybih, majaz, isti’arah, kinayah, husn al-ta’lil, mubalaghah dan sebagainya. Sehingga imajinasi itu dapat berfungsi sebagai media untuk mempengaruhi dan membangkitkan perasaan seorang sastrawan sehingga dapat memberikan nilai estetika pada sebuah karya sastra yang tertuaang dalam bentuk gaya bahasa.
    ◊ Qashdan adalah sebuah ungkapan atau kata-kata baru yang apat dikatakan syair apabila kata-kata tersebut sengaja dijadikan syair, tidak secara kebetulan. Sebagai contoh, ayat Alquran yang tersusun sesuai dengan kaidah-kaidah syair tidak dapat disbut sebagai syair, karena Allah SWT tidak bermaksud menyusun ayat-ayat Al-Quran sebagai bentuk syair.
    3). Fenomena naqdul syi’ri lebih dahulu muncul dari pada naqd natsar, salah satu penyebabnya adalah karena jenis prosa jahily sangat banyak namun karena tidak ada usaha untuk mengodifikasinya disebabkan mereka tidak bisa menulis, maka karya sastra tersebut banyak yang hilang. Berbeda dengan syair, karya sastra jenis ini mudah dihafal karena terikat dengan batasan-batasan wazan (musikalisasi) dan qafiyah (sajak), dan bangsa arab pada waktu itu sangat menjunjung tinggi al-nasab (genealogi) dan peristiwa-peristiwa penting (Ayyam al-arab) yang karena daya hafalan yang kuat pulalah naqdul syi’ri lebih dahulu muncul dan mendapat sorotan dibandingkan dengan Al-natsr (prosa).

    BalasHapus
  6. Nama : Ai Cica
    NPM : 1809 1006 0014
    2.tafsir ayat al-Qur’an surah al-Syu’ara ayat 223 berikut contohnya :
    Dalam QS. Asy-syu’ara Allah berfirman tentang peringatan kepada penyair-penyair, dalam ayat 223 ”Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta yang penuh dosa” penjelasan ayat tersebut selanjutnya dipertegas lagi pada ayat setelahnya (224) “dan penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat”. Karena karya sastra pada masyarakat jahili bukan untaian kata-kata tanpa makna (absurd) melainkan sabagai sarana (sakral) yang ampuh untuk membakar semangat, meredam emosi dan menjadikan kebanggaan dengan mengharumkan nama kabilahnya. Dalam ayat ini dijelaskan pula bahwa sebagian penyair-penyair Arab suka mempermainkan kata-kata dan tidak mempunyai tujuan yang baik, yang tertentu dan tidak mempunyai pendirian, serta mereka seringkali mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan (ayat 226). Islam tidak melenyapkan puisi, namun mengubah makna dan perannya agar tunduk pada system Islam. Perannya dibatasi sebagai perkakas agama (Islam). Seperti dipertegas pada kutipan ayat setelahnya yaitu 227: “kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan beramal shaleh dan banyak menyebut nama Allah …….”.
    Contoh penyair yang dengan tema syairnya membanggakan diri dengan kelebihan yang dimilikinya. Seperti syair yang diungkapkan oleh Rabi’ah bin Maqrum saat ia memamerkan kelebihan yang ada pada dirinya, syairnya berbunyi:
    وان تسألينى فاني امرؤ # أهين اللئيم و أحبو الكريما
    وأبني المعالي بالمكرما # ت وأرضى الخليل وأروى النديم
    Jika engkau bertanya kepadaku
    aku membenci orang hina
    aku mendekati orang mulia
    Aku membangun tempat terhormat
    dengan sifat-sifat kemuliaan
    aku menyukai sahabat
    dan memberi minum teman minum

    dan syair Abu Al-Najm Al-Ajli ketika mengejek Al-Ajjaj berikut dalam syairnya:
    انى وكل شاعر من البشر # شيطانه أنثى و شيطانى ذكر
    Aku dan semua penyair sama-sama manusia
    Tetapi ia setannya seorang perempuan
    Dan setanku seorang laki-laki

    Begitu pula Umru’ Al-Qais dalam syairnya yang menggambarkan kecantikan kekasihnya, Unaizah, yaitu:
    نهفهفه بيضاء غير مفاضه # ترائبها مصقوله كالسجنجل
    وجيد كجيد الرئم ليس بفاحش # اذا هي نصته ولابمتعطل
    وفرع يزين المتن أسود فاحم # انيت كقنوالنخلة المتعثكل
    Wanita itu langsing
    Perutnya ramping
    Dan dadanya putih bagaikan kaca
    Lehernya jenjang
    Seperti lehernya kijang
    Jika dipanjangkan tidak bercacat sedikit pun
    Karena lehernya dipenuhi kalung permata
    Rambutnya yang panjang
    Lagi hitam pirang
    Bila terurai dibahunya
    Bagaikan mayang kurma
    Ketiga contoh syair diatas tidak sejalan dengan aturan agama Islam yang melindungi dan menjunjung tinggi kehormatan wanita, tidak berlaku congkak dan mencaci sesama.
    Sedangkan contoh syair yang menarik pada masa permulaan Islam adalah tentang dakwah yang banyak dikumandangkan oleh Hassan bin Tsabit, ka’ab bin Malik, Abdullah bin Rawahah dll. Seperti contoh saat Bajir Bin Abi Sulma merayu saudaranya Ka’ab untuk masuk Islam, ia mengumandangkan beberapa bait syair yang menyentuh hati Ka’ab sehingga masuk Islam, yaitu:
    الى الله لا العزلى ولا اللات وحده # فتنجوا اذا كان النجاء وتسلم
    لدى يوم لاينجو وليس بمفلت # من النار الا طاهر القلب مسلم
    فدين زهير وهو لاشيئ باطل # ودين أبي سلمى علي محرم
    Hanya kepada Allah-lah
    Bukan kepada Uzza dan Latta, engkau akan selamat
    Kaselamatan itu terjadi ketika engkau masuk Islam
    Pada hari kiamat
    Semua tidak bisa selamat dan bebas dari api neraka
    Kecuali orang-orang yang bersih hatiya, menjadi muslim
    Agama Zuhair adalah agama yang batal
    Dan agama Abi Sulma haram bagiku

    BalasHapus
  7. lanjutan di atas
    4.Apa yang anda ketahui tentang penilaian Ummu Jundub antara Imru Al-Qais dan al Qammah, jelaskan?
    Jawab:
    Kisah Ummu Jundub yang menghakimi 2 orang penyair yang berselisih yaitu Umru al Qais dan Alqammah. Mereka berdua menyatakan dirinya masing-masing yang paling masyhur bersyair. Kemudian mereka datang kepada Ummu Jundub at-Taiyyah istri Umru Al-Qais untuk dihakimi. Ia berkata kepada mereka berdua: “Katakanlah satu bait syair dengan satu rawi dan qafiyah yang menyifati kuda. Mereka berdua mengerjakannya dan membacakan syairnya. Ummu Jundub memutuskan kemenangan al-Qamah atas Umru al-Qais. Ummu Jundub menghendaki kriteria dalam syair ke duanya yang menjadi landasan perbandingannya yaitu satu rawi, qafiyah dan tujuan.
    Kisah ini di tambah dengan penjelasan lainnya yang menyebutkan bahwa alqammah hanya mengulang bentuk qasidah milik amru alqais. Juga ada hal yang meragukan yaitu sebagaimana diketahui bahwa Umru Al-Qais mengetahui sifat-sifat kuda dan cara berburu. Ini dapat diketahui dalam mu’allaqat dan qasidah lammiyah lainnya. Oleh karena itu, dasar-dasar penghakiman Ummu Jundub yang berdasarkan 3 kriteria di atas bertentangan dengan ruh orang Jahiliyyah dalam kritik sastra.
    Ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa penghakiman Ummu Jundub yang memenangkan Alqammah adalah karena ada hal lain yaitu karena Ummu Jundub mencintai Alqammah, maka Umru Al-qais menceraikannya dan Al-qammah menggantikan kedudukannya menjadi suami Ummu Jundub.

    BalasHapus
  8. lanjutan jawaban cica yang atas
    3. kriteria-kriteria naqd al-adab yang berlaku pada masa jahiliah dan masih tetap dipertahankan pada masa shdar al-Islam !Kritik (naqd) sastra adalah memberikan penilaian terhadap karya sastra secara benar serta menjelaskan nilai dan kualitas sastranya. Para sastrawan, kritikus sastra dan sejarawan dalam memberikan penilaian terhadap keshahihan sanad dan matan karya sastra pada prinsipnya mengikuti jejak atau metode seperti yang dikembangkan para ahli hadits. Sehingga ada yang mengumpulkan dalam satu koleksi yang kemudian disebut dengan Diwan (antologi). Naqd adab adalah kritik untuk membuat aturan yang digunakkan dalam suatu karya sastra
    Kriteria-kriteria karitik sastra pada masa sadrul islam mengalami kemajuan karena pada saat Islamlah seiring dengan penulisan dan pengumpulan al-quran yang mulai mendapat perhatian besar dari kalangan pilolog pada waktu ini ternyata mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan sastra dan kritik sastra, khususnya dalam pengumpulan karya-karya sastra lama berupa puisi dan falklor. Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui besarnya pengaruh Al-quran terhadap sastra.
    Kriteria-kriteria yang masih ada, dipertahankan dan diperbaharui pada masa shodrul islam adalah Kalam (bahasa), ma’na (gagasan), wazan (irama), qafiyah ( sajak), khayal (imajinasi), dan qhasad (sengaja)
    ◊ Kalam artinya bahasa. Sangat jelas kriteria ini tidak dapat dilepaskan dari sastra, karena bahasa merupakna media utama suatu karya sastra.
    ◊ Ma’na dan gagasan atau ide. Gagasan atau ide merupakan unsur batin (dalam) syair. Para kritikus sastra menamakan gagasan ini dengan istilah fakta, yang dalam bahasa arab disebut dengan الحقيقة dan juga mereka menamakan dengan kebenaran ((الصواب Dikatakan fakta, karena syair mengandung peristiwa atau kejadian yang benar-benar dijumpai dalam kehidupan nyata. Dengan demikian syair dengan tema apapun merupakan ungkapan dari sebuah realitas yang ditulis dengan beragam tujuan. Sekalipun syair merupakan karya sastra yang didalamnya terkandung unsur imajinasi, tetap pada kenyataan nya ia tidak terlepas dari fenomena yang ada. Artinya syair mengandung nilai kebenaran, bukan kebohongan semata. Pada umumnya, gagasan dalam karya sastra banyak dipengarhi oleh faktor-faktor yang berada diluar, misalnya keadaan social perkambangan politik, budaya, dan bahkan juga diwarnai oleh factor sejarah dan pisikologis pengarang. Misalnya, sebelum islam datang budaya minum khamar dikalangan masyarakat Arab menjadi kbiasaaan sehari-hari, juga psikologis mereka pada saat kalah dan menang dalam peperangan membawa dampak yang luar biasa dalam kewibawaan kabilahnya. Sehingga peran penyair/Sastrawan memiliki peran penting, maka tak heran karya sastra jahiliah banyak didominasi tema-tema seperti Al-hamasah (syair-syair tentang keberanian, kekuatan), Al-hija’ ( syair tentang kebencian atau ketidaksukaan), Al-madah (tentang pujian) dan Al-risa (syair yang mengungkapkan kesedihan, putus asa, dan kepedihan), dan kemudian pada permulaan Islam terdapat tema-tema dakwah yaitu Al-da’wah wa Al-futuh Al-Islamiyah (syair-syair dakwah dan kemenangan islam) karena banyak juga para penyair yang memeluk agama Islam.

    BalasHapus
  9. Nama: Syarah
    NPM : 1809.1006.0053
    1. Kriteria naqd al-adab zaman jahiliyah yang masih di pertahankan pada masa shadrul Islam adalah berdasarkan dzauq fithri atau spontanitas dan generalisasi.
    2. ketika Umrul Qais dan al-Qomah mendeskripsikan Untanya, Umm Jundub menyebutkan bahwa karya al-Qomahlah yang lebih baik. Umm Jundub menilai karena Umrul Qais menggambarkan untanya dipecut (menyiksanya), Sedangkan al-Qomah menceritakan kudanya lari seperti larinya angin. Umm Jundub mengatakan kepada Umrul Qais “kuda al-Qomah lebih bagus daripada kudamu”. Dalam hal ini Umm Jundub juga menilai dari segi bahasa al-Qomah lebih halus dibandingkan bahasa Umrul Qais yang menceritakan kekerasan.
    3. Fenomena naqd-syi'ri lebih dulu dari pada naqd al-natsr karena pengaruh naqd lebih banyak terhadap syi'ri didandingkan dengan natsr dan istilahnya pun lebih sering digunakan. Dan banyaknya perhatian pada zaman itu terhadap syi’ir di banding pada natsr.

    BalasHapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. Nama: Raihani Parhan
    Npm : 180910060043

    1.Orientasi Naqd Adab masa jahiliyyah
    •Naqd Al-lughowi
    Naqd al-lughowi karna orang arab erat kaitannya dengan rahasia bahasa. Mereka memahami betul arti suatu kata. Apabila seorang penyair menggunakan kata-kata yang jauh maknanya dan menggunakan kata-kata bukan pada tempatnya, orang akan langsung memprotesnya. Sebagai mana dilakukan oleh Ibnu Adi mencela Al Mursyid ketia ia mendiskripsikan istanwako jamal
    •Naqd al-ma’na wa al-uslub
    Orang Arab yang erat kaitannya dengan kebahasaannya berjalan dalam penggunaannya dengan keasliannya. Bahasa bisa juga sebagai ekspresi pengucapnya, bila kata dan makna sesuai berarti ia benar. Akan tetapi meskipun sebaliknya kandungan makna dan pengungkapannya itu jauh dari apa yang dimaksudkan orang arab tidak membenarkannya sebagaimana hal nya dalam hal kebahasaan.
    •Naqd al-‘arudhi
    karena berkaitan dengan bunyi pada syair arab, juga bahr dengan qasidah-qasidah pada masa Islam dilakukan pengkodifikasian pada syair-syair lama
    2. .Dalam QS. Asy-syu’ara Allah berfirman tentang peringatan kepada penyair-penyair, dalam ayat 223 ”Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta yang penuh dosa” penjelasan ayat tersebut selanjutnya dipertegas lagi pada ayat setelahnya (224) “dan penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat”. Karena karya sastra pada masyarakat jahili bukan untaian kata-kata tanpa makna (absurd) melainkan sabagai sarana (sakral) yang ampuh untuk membakar semangat, meredam emosi dan menjadikan kebanggaan dengan mengharumkan nama kabilahnya. Dalam ayat ini dijelaskan pula bahwa sebagian penyair-penyair Arab suka mempermainkan kata-kata dan tidak mempunyai tujuan yang baik, yang tertentu dan tidak mempunyai pendirian, serta mereka seringkali mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan (ayat 226).
    3.naqd syi'ir lebih dulu muncul daripada naqd natsr, karena pengaruh naqd lebih banyak terhadap syi'ir dibanding dengan natsr, dan juga penggunaan istilah naqd lebih sering digunakan dalam syi'ir dibanding dengan penggunaan istilah naqd pada natsr, orang-orang arab dapat menggunakan instingnya untuk bersyair.

    BalasHapus
  12. Nama:Nuri Indrawati DR
    NPM:180910060015
    TUGAS UJIAN AKHIR

    1. Naqd Lughawi/bahasa

    kritik sastra memang sudah ada sejak munculnya penyair. Karena tugas seorang pengkritik sastra adalah untuk menilai karya sastra itu sendiri. Amin al-Khûlî (1895-1966), adalah intelektual Mesir yang telah merintis perlunya penerapan metode kritik sastra atas teks-teks Alquran. Dekontruksi itu dilakukan melalui dua cara. Pertama, kritik ekstrinsik (an-naqdul khâriji) yang diarahkan pada ”kritik sumber”. Ini mirip kajian yang holistik tentang faktor-faktor eksternal munculnya sebuah karya, baik aspek sosial-geografis, religio-kultural, maupun politisnya. Juga kajian terhadap sejarah karya dengan berbagai atribut periodisasi, sehingga mampu menemukan hubungan antara karya, latar belakang kemunculannya, dan semangat intelektual yang dikandungnya. Kedua, kritik intrinsik (an-naqdul dâkhilî), yang diarahkan pada teks sastra itu sendiri. Dengan analisis linguistik yang hati-hati, kita diharapkan mampu menangkap makna yang dikandung sebuah teks. Ini menyerupai aliran egosentrik yang melihat sebuah karya sastra dari karya itu sendiri. Dalam konteks ini, kita menemukan Alquran telah menantang manusia untuk membuat sesuatu yang menyetarainya, sebagai cara Alquran memandang dirinya sendiri (QS. 17 : 88).
    2. Naqd makna dan uslub
    maksud dari naqdul uslub adalah karena bangsa Arab selalu mempercayai sesuatu yang bisa mereka lihat dan percayai.
    3. Naqd arudhi
    4.
    sedangkan naqd arudhi adalah kritik tentang sebuah karya sastra berupa puisi atau dalam istilah arabnya adalah syair.biasanya syair ditulis oleh seorang penyair.karena syair itu sendiri bisa mengangkat derajat seseorang atau menjatuhkan seseorang. Pada zaman jahiliyah syair sangat terkenal, karena dengan syair suatu kabilah bisa menjadi unggul.penyair yang bagus biasanya di temple di dinding ka’bah yang sering di sebut as-sab’u muallaqat.
    Maksud dari ayat di atas adalah bukan untuk memojokan syair dan melarangnya tetapi hanya untuk bahan perbandingan saja. Karena pada jaman dulu syair sangan tertkenal dikalangan orang Arab.Dan maksud dari al syu’araa yattabi’uhum adalah bukan untuk menghukum bahwa syair itu haram. Pada zaman dulu sebelum al-Qur’an turun sangat popular jadi seorang penyair itu sangat terkenal akan syairnya.

     Penilaian ummu jundub atas Imru Qais dan Alqamah, lebih menyipati pada setiap syairnya adalh bahwa setiap syairnya selalu menggunakan kata-kata yang halus apabila menyipati sesuatu.
     keberdaan syair lebih dari pada nasr karena sayir bisa keluar dari mulut seseorang dengan spontanitas.walaupun syair itu bisa di salahgunakan.tetapi nasr juga penting karena yang termmasuk kedalam kategori nasr banyak.percakapan seseorangpun bisa dikatakan nasr. Jadi tidak setipa orang bisa membuat syair karena dalam membuat syair haruslah belajar terlebih dahulu, karena syair mempunyai tema tersendiri tema-tema dalam syair adalah: madah, rotsa,gazal, fakhr dan sebagainya

    BalasHapus
  13. nama : Irfa Rizke Annisa
    NPM : 180910060024

    jawaban UAS naqd

    1. Naqd al-lughowi maksudnya adalah orang Arab sangat kental dalam bahasa (sangat memahami arti suatu kata) sehingga ketika ada penyair yang menggunakan kata-kata yang jauh dari arti yang sebenarnya dan tidak pada tempatnya maka akan ketahuan dimana titik kesalahan bahasanya.
    Naqd al-ma’na wal uslub maksudnya adalah orang Arab sangat teliti memakai kata-kata dalam syair mereka, dan kata tersebut digunakan sesuai dengan aslinya. Bahasa digunakan untuk menggambarkan makna kata itu sendiri dan bisa juga digunakan sebangai bentuk ekspresi pemakainya. Orang arab tidak akan membenarkan apalagi mengguanakan kata-kata yang pengungkapan kata itu jauh dari maknanya..
    al-Naqd al-‘Arudl maksudnya adalah bahwa perkembangan syi’ir berkaitan dengan perkembangan nyanyian (qasidah). Qasidah yang berbentuk bait-bait yang diikuti dengan pola dan qofiah yang sama. Jika dalam bait syair mereka terdapat perbedaan qofiah, maka akan mengundang kritik. Karena mereka terbiasa membuat syair yang pola serta qofiahnya sama meskipun belum ada teori yang menjelaskan atau aturan untuk menentukan kedua hal tersebut.

    2. Dalam QS. Asy-syu’ara Allah berfirman tentang peringatan kepada penyair-penyair, dalam ayat 223 ”Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta yang penuh dosa” penjelasan ayat tersebut selanjutnya dipertegas lagi pada ayat setelahnya (224) “dan penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat”. Karena karya sastra pada masyarakat jahili bukan untaian kata-kata tanpa makna (absurd) melainkan sabagai sarana (sakral) yang ampuh untuk membakar semangat, meredam emosi dan menjadikan kebanggaan dengan mengharumkan nama kabilahnya. Dalam ayat ini dijelaskan pula bahwa sebagian penyair-penyair Arab suka mempermainkan kata-kata dan tidak mempunyai tujuan yang baik, yang tertentu dan tidak mempunyai pendirian, serta mereka seringkali mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan (ayat 226). Islam tidak melenyapkan puisi, namun mengubah makna dan perannya agar tunduk pada system Islam. Perannya dibatasi sebagai perkakas agama (Islam). Seperti dipertegas pada kutipan ayat setelahnya yaitu 227: “kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan beramal shaleh dan banyak menyebut nama Allah …….”.
    Contoh penyair yang dengan tema syairnya membanggakan diri dengan kelebihan yang dimilikinya. Seperti syair yang diungkapkan oleh Rabi’ah bin Maqrum saat ia memamerkan kelebihan yang ada pada dirinya, syairnya berbunyi:
    وان تسألينى فاني امرؤ # أهين اللئيم و أحبو الكريما
    وأبني المعالي بالمكرما # ت وأرضى الخليل وأروى النديم
    Jika engkau bertanya kepadaku
    aku membenci orang hina
    aku mendekati orang mulia
    Aku membangun tempat terhormat
    dengan sifat-sifat kemuliaan
    aku menyukai sahabat
    dan memberi minum teman minum

    dan syair Abu Al-Najm Al-Ajli ketika mengejek Al-Ajjaj berikut dalam syairnya:
    انى وكل شاعر من البشر # شيطانه أنثى و شيطانى ذكر
    Aku dan semua penyair sama-sama manusia
    Tetapi ia setannya seorang perempuan
    Dan setanku seorang laki-laki

    Begitu pula Umru’ Al-Qais dalam syairnya yang menggambarkan kecantikan kekasihnya, Unaizah, yaitu:
    نهفهفه بيضاء غير مفاضه # ترائبها مصقوله كالسجنجل
    وجيد كجيد الرئم ليس بفاحش # اذا هي نصته ولابمتعطل
    وفرع يزين المتن أسود فاحم # انيت كقنوالنخلة المتعثكل
    Wanita itu langsing
    Perutnya ramping
    Dan dadanya putih bagaikan kaca
    Lehernya jenjang
    Seperti lehernya kijang
    Jika dipanjangkan tidak bercacat sedikit pun
    Karena lehernya dipenuhi kalung permata
    Rambutnya yang panjang
    Lagi hitam pirang
    Bila terurai dibahunya
    Bagaikan mayang kurma
    Ketiga contoh syair diatas tidak sejalan dengan aturan agama Islam yang melindungi dan menjunjung tinggi kehormatan wanita, tidak berlaku congkak dan mencaci sesama.
    Sedangkan contoh syair yang menarik pada masa permulaan Islam adalah tentang dakwah yang banyak dikumandangkan oleh Hassan bin Tsabit, ka’ab bin Malik, Abdullah bin Rawahah dll.

    BalasHapus
  14. lanjutan

    3.Kriteria-kriteria yang masih ada, dipertahankan dan diperbaharui pada masa shodrul islam adalah Kalam (bahasa), ma’na (gagasan), wazan (irama), qafiyah ( sajak), khayal (imajinasi), dan qhasad (sengaja)
    ◊ Kalam artinya bahasa. Sangat jelas kriteria ini tidak dapat dilepaskan dari sastra, karena bahasa merupakna media utama suatu karya sastra.
    ◊ Ma’na dan gagasan atau ide. Gagasan atau ide merupakan unsur batin (dalam) syair. Para kritikus sastra menamakan gagasan ini dengan istilah fakta, yang dalam bahasa arab disebut dengan الحقيقة dan juga mereka menamakan dengan kebenaran ((الصواب Dikatakan fakta, karena syair mengandung peristiwa atau kejadian yang benar-benar dijumpai dalam kehidupan nyata. Dengan demikian syair dengan tema apapun merupakan ungkapan dari sebuah realitas yang ditulis dengan beragam tujuan. Sekalipun syair merupakan karya sastra yang didalamnya terkandung unsur imajinasi, tetap pada kenyataan nya ia tidak terlepas dari fenomena yang ada. Artinya syair mengandung nilai kebenaran, bukan kebohongan semata. Pada umumnya, gagasan dalam karya sastra banyak dipengarhi oleh faktor-faktor yang berada diluar, misalnya keadaan social perkambangan politik, budaya, dan bahkan juga diwarnai oleh factor sejarah dan pisikologis pengarang. Misalnya, sebelum islam datang budaya minum khamar dikalangan masyarakat Arab menjadi kbiasaaan sehari-hari, juga psikologis mereka pada saat kalah dan menang dalam peperangan membawa dampak yang luar biasa dalam kewibawaan kabilahnya. Sehingga peran penyair/Sastrawan memiliki peran penting, maka tak heran karya sastra jahiliah banyak didominasi tema-tema seperti Al-hamasah (syair-syair tentang keberanian, kekuatan), Al-hija’ ( syair tentang kebencian atau ketidaksukaan), Al-madah (tentang pujian) dan Al-risa (syair yang mengungkapkan kesedihan, putus asa, dan kepedihan), dan kemudian pada permulaan Islam terdapat tema-tema dakwah yaitu Al-da’wah wa Al-futuh Al-Islamiyah (syair-syair dakwah dan kemenangan islam) karena banyak juga para penyair yang memeluk agama Islam.
    ◊ Wazan pada masa jahiliyah telah ada dan selanjutnya mengalami perkembangan pada masa shadrul islam. Wazan berarti keseimbangan. Yaitu pengulangan bunyi yang sama pada setiap akhir bait dari bait-bait syair. Setiap bait syair terdiri dar dua bagian dengan wazan yang sama. Wazan-wazan ini dalam ilmu sastra arab dikenal dengan istilah bahr yang berjumlah 16.
    ◊ Qafiyah adalah kata akhir dari sebuah bait syair. Yaitu dua sukun yang berada pada akhir bait syair termasuk huruf-huruf hidup (berharakat) dan termasuk pula huruf hidup sebelum sukun pertama. Dalam qafiyah ada yang disebut dengan rawi, yaitu huruf akhir yang terbaca dalam bait syair. Hal ini kemudian dijadikan dasar untuk menyebut jenis qasidah, seperti kasidah lamiyyat dan siniyyat karena rawinya berupa huruf lam dan sin.
    ◊ Khayalatau imajinasi adalah daya saing, daya frustasi, tapi bukan lamunan. Ia tetap berpangkal pada kenyataan-kenyataan dan pengalaman-pengalaman.
    Dalam sastra arab, imajinasi ini tampak pada ungkapan yang berbentuk Tasybih, majaz, isti’arah, kinayah, husn al-ta’lil, mubalaghah dan sebagainya. Sehingga imajinasi itu dapat berfungsi sebagai media untuk mempengaruhi dan membangkitkan perasaan seorang sastrawan sehingga dapat memberikan nilai estetika pada sebuah karya sastra yang tertuaang dalam bentuk gaya bahasa.
    ◊ Qashdan adalah sebuah ungkapan atau kata-kata baru yang apat dikatakan syair apabila kata-kata tersebut sengaja dijadikan syair, tidak secara kebetulan. Sebagai contoh, ayat Alquran yang tersusun sesuai dengan kaidah-kaidah syair tidak dapat disbut sebagai syair, karena Allah SWT tidak bermaksud menyusun ayat-ayat Al-Quran sebagai bentuk syair.

    BalasHapus
  15. lanjutan..

    4.Fenomena naqdul syi’ri lebih dahulu muncul dari pada naqd natsar, salah satu penyebabnya adalah karena jenis prosa jahily sangat banyak namun karena tidak ada usaha untuk mengodifikasinya disebabkan mereka tidak bisa menulis, maka karya sastra tersebut banyak yang hilang. Berbeda dengan syair, karya sastra jenis ini mudah dihafal karena terikat dengan batasan-batasan wazan (musikalisasi) dan qafiyah (sajak), dan bangsa arab pada waktu itu sangat menjunjung tinggi al-nasab (genealogi) dan peristiwa-peristiwa penting (Ayyam al-arab) yang karena daya hafalan yang kuat pulalah naqdul syi’ri lebih dahulu muncul dan mendapat sorotan dibandingkan dengan Al-natsr (prosa).

    BalasHapus
  16. Nama : Siti Nuraeni Rodiyah
    NPM : 180910060054

    Jawaban Naqd !
    - kriteria-kriteria naqd al-adab yang berlaku pada masa jahiliah dan masih tetap dipertahankan pada masa shdar al-Islam !Kritik (naqd) sastra adalah memberikan penilaian terhadap karya sastra secara benar serta menjelaskan nilai dan kualitas sastranya. Para sastrawan, kritikus sastra dan sejarawan dalam memberikan penilaian terhadap keshahihan sanad dan matan karya sastra pada prinsipnya mengikuti jejak atau metode seperti yang dikembangkan para ahli hadits. Sehingga ada yang mengumpulkan dalam satu koleksi yang kemudian disebut dengan Diwan (antologi). Naqd adab adalah kritik untuk membuat aturan yang digunakkan dalam suatu karya sastra
    Kriteria-kriteria karitik sastra pada masa sadrul islam mengalami kemajuan karena pada saat Islamlah seiring dengan penulisan dan pengumpulan al-quran yang mulai mendapat perhatian besar dari kalangan pilolog pada waktu ini ternyata mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan sastra dan kritik sastra, khususnya dalam pengumpulan karya-karya sastra lama berupa puisi dan falklor. Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui besarnya pengaruh Al-quran terhadap sastra.
    Kriteria-kriteria yang masih ada, dipertahankan dan diperbaharui pada masa shodrul islam adalah Kalam (bahasa), ma’na (gagasan), wazan (irama), qafiyah ( sajak), khayal (imajinasi), dan qhasad (sengaja)
    - Penilaian yang dilakukan ummu jundub atas Imru Qais dan Alqamah, lebih cenderung kepada kata-kata yang lebih halus digunakan dalam masing-masing syair mereka dalam mensifati kuda mereka, dimana Imru Qais menyerupakan kudanya dengan cambukan dan dipotong uratnya sehingga cepat larinya. Kemudian al qamah hanya menarik tali kekangnya saja sehingga kudanya dapat berlari dengan kencang. Sehingga Ummu Jundub menyimpulkan bahwa kuda Al qamah lebih baik dari pada Imru Qais
    - Fenomena naqdul syi’ri lebih dahulu muncul dari pada naqd natsar, salah satu penyebabnya adalah karena jenis prosa jahily sangat banyak namun karena tidak ada usaha untuk mengodifikasinya disebabkan mereka tidak bisa menulis, maka karya sastra tersebut banyak yang hilang. Berbeda dengan syair, karya sastra jenis ini mudah dihafal karena terikat dengan batasan-batasan wazan (musikalisasi) dan qafiyah (sajak), dan bangsa arab pada waktu itu sangat menjunjung tinggi al-nasab (genealogi) dan peristiwa-peristiwa penting (Ayyam al-arab) yang karena daya hafalan yang kuat pulalah naqdul syi’ri lebih dahulu muncul dan mendapat sorotan dibandingkan dengan Al-natsr (prosa).

    BalasHapus