Kamis, 06 Agustus 2009

TOPIK DISKUSI FILIS 07-08-09

Pilih salah satu di antara pertanyaan-pertanyaan berikut ini, kemudian jawab berdasarkan sumber bacaan yang telah ditentukan dalam SAP. Boleh juga Anda menanggapi jawaban teman Anda dengan merujuk pula pada sumber bacaan Anda. Jawaban atau tanggapan Anda paling lambat telah dikirimkan pada 13-08-09. Setiap peserta SAT mengirimkan satu jawaban/tanggapan.

1. Bagaimana pendapat al-Kindi, al-Razi, al-Farabi, Ibnu Sina, dan filosof muslim lainnya tentang hubungan antara falsafat dan agama (Islam khususnya) ?
2. Apa kontribusi para filosof muslim bagi pemikiran falsafat pada umumnya ?
3. Sebutkan perbedaan pendapat di antara para filosof muslim tentang falsafat ketuhanan terutama yang disebabkan oleh pengambilan sumber pemikirannya, yaitu filosof yang bersumber pada pemikiran Plato, Aristoteles, Plotinus, dan ajaran Islam (al-Qur'an dan al-Hadits) !

15 komentar:

  1. Tugas Diskusi Individu telah dikerjakan dan dikumpulkan ke e-mail bapak oleh
    Aji Akbar Sadewo
    180910080004

    BalasHapus
  2. Nama : Ramagaluh Airlangga
    NPM : 180910080007


    Assalamu'alaikum,,

    jawaban no 1
    Pendapat para filosof muslim tentang falsafat dan agama,,

    1. Al-Kindi : Menurutnya falsfat ialah pengetahuan tentang yang benar (knowledge of truth). Dari sini terlihat bahwa menurutnya agama dan filsafat itu sama-sama mencari apa yang baik dan apa yang benar. Menurutnya agama disamping datang dari wahyu juga mempergunakan akal. Kebenaran yang dibawa Al-Quran tidak bertentangan dengan filsafat, maka dari itu dia menyatakan bahwa berfilsafat itu tidak dilarang karena filsafat aalah bagian dari teologi, dan umat islam wajib mempelajari teologi.

    2. Ar-Razi : Berdasarkan pendapat2nya, terlihat bahwa ia adalah seorang rasionlis yang lebih percaya pada akal dari pada wahyu. Menurutnya Para nabi membawa kehancuran dan pertikaian antara agama, karena ajaran yang mereka bawa saling bertentangan. Yang akhirnya membawa rasa kebencian antara umat manusia. Tapi ia bukanlah seorang ateis tetapi ia adalah seorang monoteis yang percaya pada adanya tuhan.

    3. Al-Farabi : Menurutnya agama dan dan filsafat tidak bertentangan, malahan sama2 membawa pada kebenaran. Ia berkeyakinan bahwa falsafat tidak boleh dibocorkan kepada orang awam agar tidak merusak akidah beragama mereka, maka dari itu para filosof harus menuliskan falsafat mereka dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh sembarang orang.

    4. Ibnu Sina : Menurutnya berfilsafat itu tidak dilarang dan tidak bertentangan dengan agama. Bahkan seseorang dapat menjadi lebih baik dalam kehidupan beragamanya dengan filsafat. Dengan filsafat agama dapat lebih diperjelas.

    5. Al-Ghazali : Ia adalah seorang yang tidak percaya akan filsafat, bahkan dia memandang para filosof sebagai ahl-bida', yaitu tersesat dalam beberapa pendapat mereka. Menurutnya argumen2 yang dibawa para filosof itu tidak kuat, bahkan ada yang bertentangan dengan ajaran2 islam. Kemudian dalam tasawwuf lah ia mendapat apa yang dicari-cari olehnya, setelah merasa tidak puas dengan filsafat dan ilmu kalam.

    6. Ibnu Rusyd : Ia menentang pendapat2 yang dilontarkan oleh Al-Ghazali. Menurutnya filsafat tidak bertentangan dengan ajaran2 islam, bahkan orang islam sendiri sekurang2nya dianjurkan untuk mempelajarinya. Menurutnya nash Al-Quran menyuruh manusia untuk berpikir menggunakan akalnya tentang wujud dan alam agar mereka mengenal tuhannya. Dengan begitu sesungguhnya Al-Quran menyuruh untuk berfilsafat. Kalau nash bertentangan dengan akal, maka menurutnya nash tersebut harus diberi interpretasi agar sesuai dengan akal.

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum wr.wb
    Nama : novaida indah lestari
    Npm : 180910080027

    Jawaban no.1 Pendapat para filosof muslim tentang hubungan antara falsafat dan agama.
    Setelah membaca buku sumber bacaan yang telah ditentukan dalam SAP, saya menyimpulkan bahwa para filosof muslim kebanyakan dari mereka mendukung adanya ilmu filsafat, atau bisa dikatakan mendukung dalam mempelajari ilmu filsafat. Apa yang dikatakan mereka bukanlah hanya suatu alasan membela diri dalam mempelajari ilmu ini, tapi mereka mempunyai alasan yang kuat untuk menelaahnya lebih dalam. Telah kita ketahui, bahwa telah terjadi hujatan dan penentangan yang begitu keras dari beberapa kalangan mengenai kehadiran filsafat ke dalam agama. Mereka mengatakan filsafat sangat bertentangan dengan ajaran agama, khususnya agama Islam.
    Al-Kindi berpendapat, bahwa filsafat dan agama sesungguhnya sama-sama berbicara dan mencari kebenaran, dan karena pengetahuan tentang kebenaran itu meliputi juga pengetahuan tentang Tuhan, tentang keesaan-Nya, tentang apa yang baik dan berguna, maka barang siapa saja yang menolak untuk mencari kebenaran dengan alasan bahwa pencarian seperti itu adalah kafir, maka sesungguhnya yang mengatakan kafir tersebutlah yang sebenarnya kafir. Karena pengertian filsafat sendiri adalah mencari kebenaran dari sesuatu hal.
    Dari semua filosof muslim, yang paling menanggapi tentang penentangan ilmu filsafat dalam agama adalah ibnu rusyd. Sampai beliau menulis sebuah karya khusus untuk menjelaskan bagaimana sesungguhnya dan seharusnya hubungan antara filsafat dan agama. Menurutnya antara agama dan filsafat tidak ada pertentangan. Bila di telaah lebih dalam agama justru menganjurkan kita untuk mempelajari filsafat, karena kita akan menemukan kebenaran didalamnya.
    Jika filsafat mempelajari secara kritis tentang segala wujud yang ada dan merenungkannya sebagai petunjuk ‘dalil’ adanya sang pencipta dari satu sisi dan syari’ah pada sisi yang lain telah memerintahkan untuk merenungkan segala wujud yang ada, maka sesungguhnya antara apa yang dikaji oleh filsafat dan apa yang dianjurkan oleh syari’ah telah saling bertemu. Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa mempelajari filsafat sesungguhnya telah diwajibkan oleh syari’ah.
    Tidak ada yang salah dalam mempelajari tentang ilmu filsafat, ilmu filsafat dalam agama mencari kebenaran akan adanya Tuhan. Dan itu sangat wajar sekali, karena setiap individual ingin mendapatkan kebenaran akan apa yang dipercayainya. Beragama tidak hanya turun temurun saja, tetapi meyakini akan kebenaran agama tersebut, dan alasan mempercayai agama tersebut. Yang salah adalah yang terlalu berfikir jauh tentang ketuhanan, sampai dia meyakini ketidak adaan Tuhan, dan itulah yang seharusnya kita hindari.

    BalasHapus
  4. Nama : Aditya Rachman
    NPM : 180910070018

    1. Bagaimana pendapat al-Kindi, al-Razi, al-Farabi, Ibnu Sina, dan filosof muslim lainnya tentang hubungan antara falsafat dan agama (Islam khususnya)?
    Menurut referensi yang saya dapatkan dari buku berjudul Filsafat Islam karya Dr. Hasyimsyah Nasution , M. A. menurut Ibnu Thufail, filsafat dan agama adalah selaras, bahkan merupakan gambaran dari hakikat yang satu. Dengan filsafat manusia akan dapat mengetahui obyek kebenaran tertinggi, yaitu Allah. Namun demikian, wahyu tetap dibutuhkan, selain untuk memberikan bimbingan kepada akal, juga sebagai petunjuk pelaksanaan ibadah yang tidak dapat dicapai oleh usaha akal sekalipun. Karena yang memberikan cara peyembahan itu adalah yang disembah itu sendiri, yakni Allah, dan ini diakui oleh Ibnu Thufail sebagai eksperi jiwa keislamannya.
    Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa filsuf-filsuf muslim yang diwakili oleh pendapat ibnu Thufail bahwa hubungan filsafat dan agama saling melengkapi satu sama lain. Terlepas dari perbedaan pendapat tentang filsafat ketuhanan, filsafat dan agama memiliki keselarasaan.

    BalasHapus
  5. Nama : Encep Muhammad Irsaluddin
    NPM: 180910080025

    Jawaban No. 1
    Hubungan antara agama dan filsafat menurut para filosof,,

    1. Menurut Al-Kindi
    Menurutnya antara filsafat dengan agama tidak bertentangan, menurutnya filsafat adalah ilmu kemanusiaan yang dicapai oleh filosof dengan berfikir, belajar, usaha -usaha manusiawi. Sementara ituagama, adalah ilmu ketuhanan yang menempati peringkat tertinggi karena diperoleh tanpa proses belajar, berfikir, dan usaha manusiawi, melainkan hanya diksuskan bagi para rasul yang dipilh allah dengan menyucikan jiwa mereka dan memberinya wahyu.
    jawaban filsafat menunjukan ketidak pastian dan memerlukan pemikiran atau perenungan.sementara agama menunjukan kepastian atau kebenaran yang mutlak.
    2, Menurut AL-Razi
    Berdasarkan pendapat-pendapatnya dapat disimpulkan bahwa Al-Razi adalah pemikir No-Komporomis, terlihat dari pernyataannya yang menolak para nabi.dia lebih percaya kepada akal yang rasional dari pada kepada wahyu.

    3. Menurut Al-Farabi
    Menurutnya antara agama dan filsafat saling berhubungan keduanya merupakan satu kesatuan yang utuh,

    4. Menurut Ibnu Sina
    Menurut pendapatnya, filsafat dan agama tidak bertentangan,, bahkan didalam kehidupan seseorang akan menjadi pribadi yang lebih baik dalam kehidupan beragamanya dengan mempelajari filsafat.


    5. Menurut Ikhwan AL Syafa
    Tujuan filsafat dan agama menurut ikhwan al-shafa adalah sama, filsafat bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah sejauh kemampuan manusia dengan dasar ilmu yang benar, akhlak yang mulia dan bertyingkah laku yang terpuji. SEmentara itu agama juga dimaksudkan untuk mendidik jiwa manusia dan mengantarkan mereka agar dapat mencapai kebahagiaan, baik di dunuia amaupun akhirat

    BalasHapus
  6. Nama : Neng nafisah
    npm : 180910080046

    No.2 Kontribusi Para Filosof Muslim Bagi Pemikiran Falsafat Pada Umumnya

    Aristoteles
    Filsafat Aristoteles berkembang pada waktu ia memimpin Lyceum, yang mencakup enam karya tulisnya yang membahas masalah logika, yang dianggap sebagai karya-karyanya yang paling penting, selain kontribusinya di bidang Metafisika, Fisika, Etika, Politik, Ilmu Kedokteran, dan Ilmu Alam.
    Di bidang ilmu alam, ia merupakan orang pertama yang mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis. Karyanya ini menggambarkan kecenderungannya akan analisa kritis, dan pencarian terhadap hukum alam dan keseimbangan pada alam. Plato menyatakan teori tentang bentuk-bentuk ideal benda, sedangkan Aristoteles menjelaskan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis). Selanjutnya ia menyatakan bahwa bentuk materi yang sempurna, murni atau bentuk akhir, adalah apa yang dinyatakannya sebagai theos, yaitu yang dalam pengertian Bahasa Yunani sekarang dianggap berarti Tuhan.
    Logika Aristoteles adalah suatu sistem berpikir deduktif (deductive reasoning), yang bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar dari setiap pelajaran tentang logika formal. Meskipun demikian, dalam penelitian ilmiahnya ia menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen dan berpikir induktif (inductive thinking).
    Di bidang politik, Aristoteles percaya bahwa bentuk politik yang ideal adalah gabungan dari bentuk demokrasi dan monarki.
    Karena luasnya lingkup karya-karya dari Aristoteles, maka dapatlah ia dianggap berkontribusi dengan skala ensiklopedis, dimana kontribusinya melingkupi bidang-bidang yang sangat beragam sekali seperti Fisika, Astronomi, Biologi, Psikologi, Metafisika (misalnya studi tentang prisip-prinsip awal mula dan ide-ide dasar tentang alam), logika formal, etika, politik, dan bahkan teori retorika dan puisi.
    Plato
    Sumbangsih Plato yang terpenting tentu saja adalah ilmunya mengenai ide. Dunia fana ini tiada lain hanyalah refleksi atau bayangan daripada dunia ideal. Di dunia ideal semuanya sangat sempurna. Hal ini tidak hanya merujuk kepada barang-barang kasar yang bisa dipegang saja, tetapi juga mengenai konsep-konsep pikiran, hasil buah intelektual. Misalkan saja konsep mengenai "kebajikan" dan "kebenaran".
    Plato membagi kenyataan kepada yang bersifat "akali" dan yang bersifat "inderawi", dengan pengertian bahwa yang akali itulah yang sebenarnya ada, jadi juga yang abadi dan tak berubah. Termasuk diantara yang akali itu ialah konsep tentang "Yang Baik", yang berada di atas semuanya dan disebut sebagai berada di luar yang ada. "Yang Baik" ini kemudian diidentifikasi sebagai "Yang Esa", yang tak terjangkau dan tak mungkin diketahui.

    BalasHapus
  7. Part 1
    Oleh
    Nama : Aji Akbar Sadewo
    NPM : 180910080004

    Pendapat Para Filosof Muslim Tentang Hubungan Antara Filsafat Dengan Agama
    Al-Kindi
    Menurut al-Kindi, perbedaan-perbedaan antara filsafat dan agama, bukanlah perbedaan yang esensial dan tidak menutup kemungkinan untuk mempertemukan keduanya. Dengan menggunakan pendekatan kesamaan tujuan dan epistemologi, dapat kita ketahui akan adanya sebuah hubungan yang erat antara filsafat dan agama.
    Lebih lanjut, dari uraian-uraian di atas dapat kita paparkan argumen-argumen al-Kindi dalam rangka mempertemukan antara filsafat dan agama ke dalam tiga poin, yaitu:
    1. Bahwa ilmu agama merupakan bagian dari ilmu filsafat.
    2. Bahwa antara wahyu dan kebenaran filsafat saling bersesuaian.
    3. Bahwa menuntut ilmu secara logika juga diperintahkan dalam agama.
    Akhirnya, sebagai penutup, filsafat dan agama tidaklah bisa saling dipertentangkan, karena keduanya memberikan informasi tentang kebenaran.
    Al-Kindi juga mengatakan, bahwa filsafat dan agama sesungguhnya adalah sama-sama berbicara dan mencari kebenaran, dan karena pengetahuan tentang kebenaran itu meliputi juga pengetahuan tentang Tuhan, tentang keesaan-Nya, tentang apa yang baik dan berguna, maka barang siapa saja yang menolak untuk mencari kebenaran dengan alasan bahwa pencarian seperti itu adalah kafir, maka sesungguhnya yang mengatakan kafir tersebutlah yang sebenarnya kafir.

    Ibnu Rusyd
    Menurut Ibn Rusyd, antara filsafat dan agama sesungguhnya tidak ada pertentangan. Agama alih-alih melarang, bahkan justru mewajibkan pemeluknya untuk belajar filsafat.
    Jika filsafat mempelajari secara kritis tentang segala wujud yang ada dan merenungkannya sebagai petunjuk ‘dalil’ adanya sang pencipta dari satu sisi dan syari’ah pada sisi yang lain telah memerintahkan untuk merenungkan segala wujud yang ada, maka sesungguhnya antara apa yang dikaji oleh filsafat dan apa yang dianjurkan oleh syari’ah telah saling bertemu. Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa mempelajari filsafat sesungguhnya telah diwajibkan oleh syari’ah.

    Al-Razi
    Bagi al-Razi, akal menjadi kompas utama dalam kehidupan setiap manusia. Akal diberikan oleh Tuhan kepada setiap insan dalam kekuatan yang sama. Perbedaan timbul karena pengaruh pendidikan, lingkungan dan suasana. Manusia bebas untuk menerima ilmu pengetahuan dari manapun sumbernya. Sebab, ilmu itulah yang akan menyucikan jiwanya, untuk dapat kembali kepada Tuhannya.
    Al-Razi tidak percaya kepada para Nabi. Sebab, mereka dipandangnya hanya membawa kehancuran bagi manusia. Kebenar¬an wahyu yang didakwahkannya, tidak benar adanya. Oleh karenanya, al-Qur’an dengan uslubnya tidak merupakan mu’ji¬zat bagi Muhammad. Ia hanya sebagai buku biasa. Nikmat akal lebih kongkret daripada wahyu. Oleh karena itu, kegiatan membaca buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya lebih berar¬ti daripada membaca buku-buku agama.
    Selanjutnya, dalam hubungan kenabian dan agama, al-Razi menegaskan bahwa para Nabi tidak berhak mengklaim bahwa mereka memiliki keistimewaan khusus, baik rasional maupun spiritual, karena semua manusia sama. Padahal keadilan dan kemahahakiman Tuhan memastikan untuk menolak memberikan keistimewaan kepada seseorang di atas orang lain.

    BalasHapus
  8. Part 2
    Sedangkan mukjizat dipandangnya sebagai bagian dari mitos keagamaan atau rayuan dan keahlian yang dimaksudkan untuk menipu dan menyesatkan. Ajaran agama saling kontradik¬tif, karena satu sama lain saling menghancurkan, dan tidak sesuai dengan pernyataan bahwa ada realitas permanen. Hal itu dikarenakan setiap Nabi membatalkan risalah pendahulunya, akan tetapi menyerukan bahwa apa yang dibawanya adalah kebenaran, bahkan tidak ada kebenaran lain, dan menusia menjadi bingung tentang pimpinan dan yang dipimpin, panutan dan yang dianut. Semua agama merupakan sumber peperangan yang menimpa manusia sejak dulu, di samping merupakan musuh filsafat dan ilmu pengetahuan.
    Alur pikiran di atas dapat dipahami, bahwa, dalam pandangan al-Razi, agama itu hanya warisan tradisional yang diikuti oleh masyarakat karena tradisi saja. Oleh karena pandangannya yang demikian, maka al-Razi dapat disebut seorang ateis, karena mengkritik semua agama. Tetapi di sisi lain, ia seorang monoteis sejati yang mengaku adanya Tuhan Pencipta, sehingga baginya, nabinya adalah akalnya sendiri.
    Kritik terhadap al-Razi, dengan cara yang tajam pernah disampaikan oleh Abu al-Hatim al-Razi (w. 330 H.) seorang yang sezaman dan senegara dengan al-Razi–dalam kitabnya A’lam al-Nubuwwah.Di dalamnya tidak ditegaskan nama al-Razi, akan tetapi cukup mengarahkan kritiknya kepada orang yang disebutnya al-Mulhid (sang ateis). Namun ada indikasi pasti yang menunjukkan bahwa sang ateis ini bukan orang lain selain al-Razi. Buku tersebut memuat protes fundamental yang diarahkan oleh al-Razi kepada kenabian dan pengaruhnya secara sosial. Protes-protes ini, secara global, mendekati semua protes yang sebelumnya telah dikobarkan oleg al-Rowan¬di. Seakan kedua tokoh tersebut mengulangi nada yang sama.
    Sebenarnya al-Rowandi rekan sezaman dengan al-Razi-amat masyhur dan mempunyai keberanian intelektual yang luar biasa, sampai-sampai ia benar-benar berani memperolokkan al-Qur’an dengan meniru-nirukannya dan menertawakan Muhammad. Tetapi, namanya tertutupi oleh al-Razi. Dalam hemat penu¬lis, di antara kemungkinan ketertutupan ini adalah karena al-Rowandi terfokus pada arogansi intelektual dan karyanya tidak seberapa banyak. Sedangkan al-Razi, di samping karya filsafatnya lebih banyak daripada karya al-Rowandi, juga karena reputasi kepustakaan maupun jasa pelayanan sosialnya di bidang medis. Apalagi karya al-Hawinya telah menembus jaringan prestisius di Eropa selama lima abad.

    BalasHapus
  9. Part 3 LAST
    Al-Ghazali
    Al-Ghazali mempermasalahkan duapuluh masalah filsafat, tiga di antaranya dapat membuat orang yang meyakininya menjadi kafir dan tujuhbelas yang tersisa masuk dalam wilayah bid’ah. Tiga proposisi yang membuat filsuf kafir itu adalah tentang ke-qadim-an alam (keyakinan bahwa alam tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir), ketakpercayaan tehadap kebangkitan jasad (jasmani) beserta perhitungannya dan keyakinan bahwa Allah tidak mengetahui kejadian-kejadian yang pertikular.
    Menurutnya “alam itu bukanlah qadim dan ia disebabkan oleh kehendak yang qadim. Dari kehendak yang qadim ini maka muncul alam yang bukan qadim. Jika adanya alam ini tidak bermula (qadim) maka tidak ada kehendak. Sedangkan adanya alam tidak bergantung pada kehendak yang bukan qadim melainkan pada kehendak yang qadim”. Semua perdebatan ini ditulis oleh al-Ghazali dalam bukunya Tahafut al-Falasifah (kerancuan para filsuf) yang kemudian dikritik oleh Ibnu Rushd, filsuf dari Andalusia (Spanyol saat ini), lewat buku Tahafut al-Tahafut (kerancuan buku Tahafut al-Ghazali).

    Para Filosof
    Ada empat argumen yang dibangun oleh para filsuf (sebagian besar) untuk membuktikan ke-qadim-an alam. Pertama, kemustahilan munculnya sesuatu yang bukan qadim (ada awal dan akhir) dari yang qadim. Dari argumen pertama dilanjutkan pada argumen kedua. Menurut para filsuf, jika Sang Pencipta yang qadim hadir lebih dahulu dibandingkan dengan alam yang qadim, seperti lebih dahulunya satu atas dua atau gerak tangan atas bayangan tangan, maka tidak mungkin yang satu qadim sementara yang lainnya bukan qadim. Yang mungkin adalah kedua-duanya itu qadim atau kedua-duanya bukan qadim, namun kesimpulan yang terakhir ini mustahil bagi Tuhan, berarti yang benar adalah kesimpulan pertama (bahwa dua-duanya qadim). Argumen yang ketiga dan yang keempat menggunakan teori kemungkinan sebagai pembuktian atas qadimnya alam.

    BalasHapus
  10. asalamu'alaikum..

    pak..tagas no 3 sudah saya kumpulkan melalui email bapak.

    nama: fathur Rahman
    NPM; 180910080019

    BalasHapus
  11. jawaban no 3.
    Tuhan bagi Al-Kindi adalah Pencipta dan bukan Penggerak Pertama sebagaimana pendapat Aristoteles. Alam bagi al-Kindi bukan kekaldi zaman lampau. tetapi mempunyai permulaan. karena itu ia lebih dekat dalam hal ini pada falsafat Plotinus yang mengatakan bahwa Yang Mahasatu adalah sumber dari ini dan sumber dari segala ynag ada. alam ini adalah emanasi dari dari Yang Mahasatu. tetapi paham emanasi ini kelihatannya tidak jelas dalam falsafata al-Kindi. Al-Farabi lah yang dengan jelas menulis tentang hal itu.
    Al-Razi dalam falsafatnya mengenai hubungan manusia dengan Tuhan ia dekat kepada falsafat Pythagoras, yang memandang kesenangan manusia sebenarnya ialah kembali kepada Tuhan denagn meningglkan alam materi ini. untuk kembali ke Tuhan roh harus etrlebih dahulu disucikan dan yang dapat menyucikan roh ialah ilmu pengetahuan dan berpantang mengerjakan beberapa hal. bagi al-Razi sebagaimana dilihat jalan menyucikan roh adalah falsafat. dalam paham Pythagoras ada transmigration of souls dan ini dalam paham al_razi tidak jelas.

    BalasHapus
  12. al-farabi mencela orang yang mengatakan bahwa alam ini menurut Aristoteles adalah kekal.

    BalasHapus
  13. Nama: M.Ramadhana.A
    NPM : 180910060009

    1. -Al-kindi: menurut Al-kindi, agama dan filsafat tidak mungkin bertentangan. Agama disamping sebagai wahyu juga menggunakan akal. Didalam Alquran disebutkan "sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berakal; yaitu mereka yang berdzikir dalam keadaan berdiri dan duduk dan mereka yang bertafakkur dalam penciptaan langit dan bumi"(Q.S).
    Yang benar pertama (Al-Haqq Al-Awwal)adalah tuhan. Dalam hal ini filsafat juga membahas soal tuhan dan agama, dan filsafat paling tinggi adalah filsafat tentang tuhan (seperti filsafat skolastik). Bagi Al-kindi, orang yang menolak filsafat bisa dianggap kafir, karena dia telah jauh dari kebenaran, meskipun menganggap dirinya benar.
    -Al-Razi: Pada umumnya pendapat yang menyebutkan filsafat arab beralasan bahwa filsafat itu di tulis dalam bahasa arab, atau ia terjemahkan kedalam bahasa arab dengan menambahkan unsur-unsur baru dalam bahasa arab.
    -Al-Farabi: filusuf adalah orang yang menjadikan seluruh kesungguhan dari kehidupannya dan seluruh maksud dari umurnya mencari hikmah yaitu mema'rifati Allah yang mengandung pengertian mema'rifati kebaikan.
    -Ibnu Sina: Hikmah adalah mencari kesempurnaan diri manusia dengan dapat menggambarkan segala urusan dan membenarkan segala hakikat baik yang bersifat teori maupun praktik menurut kadar kemampuan manusia.
    2. kontribusi para filusuf di negeri-negeri islam terhadap perkembangan tradisi itelektual barat dan menampilkan nama-nama filusuf seperti Al-kindi, Yahya Ibnu Adi, Ibnu Sina, Ibnu Shalah dan Ibnu Assal. Bahwa memang filsafat islam telah dapat menjadikan dirinya dapat diterima oleh siapapun dan kerja keras yang dilakukan oleh filusuf islam banyak menghasilkan dan dijadikan dasar sebuah keilmuan.
    3. Diantara para filosof awal, khususnya Al-Kindi dan Al-Farabi, sangat berkarya berupa terjemahan dan omentar mereka terhadap para filosof yunani, khususnya terhadap Aristoteles, Plato dan Plotinus. Dalam hal ini akan dikemukakan tiga filsuf yang membahas struktur ilmu filosofis. Yang pertama adalah Abu Hasan Al-Amiri, filsuf yang mencoba menggambarkan struktur ilmu yang berkembang pada abad IV Hijriay dalam peradaban islam. Ia tidak mengemukakan struktur yang diyakininya. Kemudian Al-Farabi, dengan strukturnya sendiri yang memenangkan ilmu-ilmu filosof. Dan terakhir Al-Gazhali,Yang memenangkan ilmu-ilmu religius. Al-Farabi, dalam Ihsan Al-Ulum membagi pengetahuan filsafat pada 7 bidang yaitu, 1.Linguistik, 2.Logika, 3.Matematika, 4.Fisika, 5.Metafisika, 6.Plitik, 7.Hukum.

    BalasHapus
  14. Nama: Rakhmat Ramadhan
    NPM : 180910060023


    1). *Menurut al-Kindi: Agama dan filsafat bisa dikatakan searah dan tidak bertolakbelakang. Yang benar pertama (al-Haqq al-Awwal) adalah Tuhan. Dalam hal ini, filsafat juga membahas tentang Tuhan dan Agama. Dan filsafat paling tinggi adalah filsafat tentang Tuhan (seperti filsafat skolastik). Menurut al-Kindi, orang yang menolak filsafat bisa dianggap kafir, karena dia telah jauh dari kebenaran, meskipun dirinya mengangagap paling benar. Filsafat menggunakan akal dan agama selain sebagai wahyu juga menggunakan akal.
    Sedangkan filsafat diperoleh melalui proses belajar antara lain berfikir dan berkontemplasi. Sedangkan melalui segi pendekatan metode, agama dilakukan dengan pendekatan melalui keimanan, sedangkan filsafat melalui pendekatan loogika.
    * Menurut al-Farabi: Baik agama dan filsafat berhubungan melalui realitas yang sama. Keduanya terdiri dari subjek-subjek yang serupa dan sama-sama melaporkan prinsip-prinsip wujud tertinggi (yaitu esensi prinsip pertama dan esensi dari prinsip-prinsip kedua nonfisik). sedangkan agama memaparkan laporannya berdasarkan imajinasi.
    *Menurut al-Razi: Termasuk yang meragukan sebagian besar prinsip-prinsip filsafat yang sudah diterimanya pada saat itu. Ia juga mengkritik dan menyanggah para ulama sebelumnya. Para filsuf yang hidup sejamannya dan setelahnya berusaha menjawab kritikan yang dilontarkannya
    *Menurut Ibnu Sina: Hubungan antara filsfat dan agama tidak bertentangan. Pembangian filsafat bagi Ibnu Sina tidak berbeda dari pembagian sebelumnya, filsafat teori dan filsafat amalan. Filsafat ketuhanan menurut Ibnu Sina adalah: a. Ilmu tentang turunnya wahyu dan makhluk-makhluk rohani pembawa wahyu itu, dengan demikian pula bagaiman wahyu itu disampaikan, dri sesuatu yang bersifat rohani kepada sifat yang bisa dilihat dan didengar. b. Ilmu akherat (ma'ad) antara lain diperkenalkan kepada kita bahwa manusia tidak dihidupkan lagi badannya, maka rohnya yang abadi itu akan mengalami siksa dan kesenangan.
    2). Kontribusi para filosof muslim bagi pemikiran filsafat sangat tinggi. Seperti Ibnu Sina, ia tetap mempertahankan sistem filsafat yang telah dibangunnya. Ia menunjukan jiwa jenius dalam menemukan metode-metode dan alasan-alasan yang menopang perumusan kembali pemikiran rasional murni dan tradisi intelektual Hellenisme yang diwarisinya. Kreatifitasnya makin unik dengan kombinasi pemikiran Islam yang kental.
    Keaslian pemikiran Ibnu Sina rupanya bukan saja menghadirkan keunikan tapi sekaligus kekaguman dunia Islam abad pertengahan. Orde dominikian, bahkan masa teolog barat memperoleh pengaruh kuat dari pemikirannya. Perumusan kembali teologi katolik Roma yang digagas Albert yang agung dan terutama oleh Thomas Aquinas secara mendasar dipengaruhi oleh pemikiran Ibnu Sina. Selain itu, penerjemah De Anima, Gundisalvus De Anima yang sebagian besar isinya merupakan pengambilan besar-besaran doktrin-doktrin Ibnu Sina.
    3). Pemikiran falsafah dan konsep ketuhanan telah ditulis oleh Ibnu Sina dalam bab "Himah Ilahiyyah" dalam fasal tentang adanya susunan akal dan nufus langit dan jirim atasan. Pemikiran ini telah mencetuskan kontroversi dan telah disifatkan sebagai salah satu percobaan untuk membahas zat Allah. Al-Ghazali menulis sebuah buku yang berjudul "Tahafat al-falasifah" yaitu tidak ada kesinambungan dalam pemikiran ahli falsafah untuk membahas pemikiran Ibnu Sina dan al-Farabi. al-Kindi mendefinisikan falsafah sebagai "karya manusia yang paling tinggi" karena dipakai untuk mencari kebenaran. Dan yang paling luhur adalah berfikir tentang tuhan. al-Kindi mengacu pada pandangan Aristoteles dalam protrepticus yaitu "belajar falsafah memang tidak harus, tetapi juga tidak sia-sia". Mereka yang menyebutnya sia-sia harus membuktikan kesia-siaannya secara sahih dan jika demikian, itu sama saja berfilsafat.

    BalasHapus
  15. Nama : Siti Nuraeni Rodiyah
    NPM : 180910060054

    Menurut para filsuf hubungan antara filsafat dengan Agama,menurut Al-Kindi : sebagai orang Islam pertama yang mengupayakan keselarasan antara filsafat dengan agama, adalah tidak ada pertentangan anatara keduanya, karena masing-masing menjelaskan tentang kebenaran.Sedangkan kebenaran itu adalah satu atau tunggal, dan filsafat, ilmunya meliputi ketuhanan, keesaan-Nya dan keutamaan serta ilmu-ilmu yang selain mengajarkan untuk memperoleh sesuatu yang bermanfaat dan menjauhi hal-hal yang mudarat, jadi apapun sumbernya kalau itu mengajarkan tentang kebenaran kita wajib menerimanya dengan sepenuh hati.Bedanya kalau Filsafat itu metode untuk menemukan kebenaran dengan metode Logika sedangkan Agama menggunakan metode Keimanan.
    Filsafat Al-Razi : al-Razi dikenal sebagai seorang rasionalis murni, karena Ia sangat mengagungkan akal dan rasionya daripada wahyu nabi, bahkan menurut Harun Nasution, al-Razi merupakan filsuf yang dinilai telah menyimpang dari agama. Namun disamping itu ada juga yang berpendapat bahwa yang mengatakan bahwa pendapat-pendapat tentang al-Razi mengenai filsafat dengan agama, merupakan bersumber dari buku yang memang diragukan akan keadaannya dan mungkin itu adalah sanggahan-sanggahan dari lawannya sebagai seorang filsuf, karena kalau ditinjau ulang bahwa tidak mungkin seorang yang percaya tentang kebenaran islam tidak mempercyai wahyu nabi.
    Filsafat Al-Farabi : Menurut al-Farabi antara filsafat dengan agama tidak ada pertentangan, bahkan harus cocok dan serasi karena sumber keduanya sama-sama dari akal aktif, hanya saja cara memperolehnya yang berbeda.Filsafat memikirkan kebenaran dan Agama juga menjelaskan kebenaran, oleh karena itu kata al-Farabi tidaklah berbeda kebenaran yang disampaikan oleh para Nabi, dengan kebenaran yang dimajukan oleh para filosof, namun bukan berarti al-Farabi menerima kelebihan filsafat dari Agama.
    Filsafat Ibnu Sina : Pendapat ibnu sina tentang pemaduan antara filsafat dengan agama tidak jauh berbeda dengan yang dinyatakan oleh al-Farabi bahwa antara keduanya tidak ada pertentangan, karena sama- sama menjelaskkan tentang kebenaran.

    BalasHapus