ISLAM DAN SYA'IR
1. Bagaimana pendapat Anda tentang ayat al-Qur'an yang menyatakan ..... "al-syu'ara yattabi'u hum al-ghawun....." ?
2. Apa pengaruh al-Qur'an terhadap persya'iran Arab pada masa shadr al-Islam, berikan contoh penyair dan karyanya !
Selasa, 28 April 2009
TOPIK DISKUSI NAQD AL-ADAB
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Nama : febry
BalasHapusNpm : H1I050052
1. Dalam hal ini Al-Qur’an adalah karya sastra yang agung, dan sebelum Al-Qur’an diturunkan, pada tradisi masyarakat arab jahiliyah, mereka meyakini bahwa para penyair memiliki pengetahuan magis, karena itu mereka dikenal sebagai “ahl Al-ma’rifah”, yaitu sekelompok orang yang dapat memprediksi kehidupan dan kejadian di masa yang akan datang.
2. Turunnya Al-Qur’an dalam sejarah menimbulkan akibat yang luas. Mereka menganggap begitu tinggi diri mereka karena keunggulan sastranya. Kini datang pada mereka dalam bidang itu, dan membuat mereka tertinggal tak berdaya. Al-Qur’an benar-benar menghancurkan kesombongan mereka. Syair sastra yang paling jenius melemah di hadapan keperkasaan Al-Qur’an. Al-Qur’an membuat mereka merendah diri dan sementara menghentikan produktivitas sastra. Sementara bagian penyair bersumpah tak akan menciptakan syair lagi,sebagian lagi memilih Al-Qur’an selamanya. Tak ada kitab yang begitu luas dan dalam penghormatannya seperti Al-Qur’an. Tak ada kitab yang disalin dan ditiru, disalin lagi, disampaikan dari generasi ke generasi, dihafal sebagiannya atau seluruhnya dibaca dalam ibadah yang khidmat maupun di ruangan,pasar,kelas sekolah, seperti halnya Al-Qur’an. Dan yang paling penting,tak ada kitab yang menyebabkan perubahan religius, intelektual,budaya,moral,social,ekonomi,dan politik dalam hidup jutaan orang atau orang-orang yang berbeda suku, selain Al-Qur’an.
Penyair pada zaman shadr al-islam yaitu: Hasan bin Tsabit, Ka’ab bin Zuhayr dan Hutai’ah.
assalamu'alaikum pak haji.
BalasHapusnama : Ari Ilham Harmain
NPM: 180910070007
1. saya tidak menemukan ayat yang berbunyi al syu’araa hum al-ghaawun. Yang saya temukan adalah ayat yang berbunyi al syu’araa yattabi’uhum al ghaawun dalam surat asy-Syuaraa ayat 224. Maka dari pengertian tersebut ada perbedaan. yang pertama berarti bahwa para penyair itu orang yang sesat sedangkan yang kedua berarti para penyair itu diikuti oleh orang yang sesat. Adapun makna dari ayat ini maka harus disambung dengan ayat sesudahnya agar lebih mudah difahami. Ayat ini bukanlah mencela penyair dan syair apalagi melarangnya, hal ini dapat dibuktikan bahwa di zaman Nabi ada para penyair, bahkan dalam ayat 227 Allah mengecualikan para penyair muslim. namun mencela para penyair yang suka mempermainkan kata-kata untuk tujuan yang tidak baik seperti mencela Nabi maupun Islam dan menyibukkan diri untuk hal-hal yang tidak berguna. Dan terdapat riwayat dari Ibn Abbas mengenai ayat ini ia berkata “ Pada masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ada dua orang laki-laki, salah satunya berasal dari kalangan Anshar,sementara yang lainnya berasal dari kalangan lain. Keduanya saling mengejek dengan menggunakan syair. Masing-masing mendapat dukungan dari orang-orang sesat dari kaumnya. Mereka inilah orang-orang bodoh maka Allah menurunkan ayat tersebut.
2. pengaruh Al-Quran terhadap dunia sya’ir diantaranya adalah al-Quran memberikan kosakata baru bagi dunia bahasa seperti kata al-Quran, kafir, muslim dan sebagainya. Al - Quran juga telah membuat para penyair masuk islam dengan keunggulan gaya bahasanya dan merubah orientasi mereka, sehingga para penyair tersebut menggunakan syairnya untuk menyebarkan aqidah dan hukum yang ada dalam al quran agar orang-orang mengikuti islam, untuk membangkikan semangan berperang mencari syahid dalam meninggikan agama Allah, mebela Nabi dan Islam dari celaan para penyair kafir, terlebih Nabi juga telah memotivasi mereka “ Sesungguhnya seorang mukmin itu berjihad dengan pedang dan lisannya. Demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, syair yang kalian lontarkan kepada mereka laksana hujaman anak panah yang meluncur dari busurnya” (H.S.R Ahmad). Hal ini tampak ketika Nabi diejek oleh para penyair maka Nabi memerintahkan Hasan bin Tsabit untuk membalasnya “ Balas ejekan mereka karena Jibril bersamamu” (H.R Bukhari Muslim)
Adapun diantara para penyair tersebut adalah :
1. Hasan bin Tsabit yang dikenal sebagai penyair Rasulullah,diantara perkataannya adalah:
Kamu menghina Muhammad maka aku membelanya
Dan di sisi Allah-lah balasan dari semua itu
Kamu menghina Muhammad yang baik lagi bertakwa
Seorang utusan Allah yang selalu menepati janji
Sesungguhnya bapakku, ibuku dan kehormatanku
Adalah pelindung bagi kehormatan Muhammad dari kalian
Aku kehilangan anak perempuanku jika kalian tidak melihat
Kuda-kuda kami mengepulkan debu di dataran Kada`
Kuda-kuda itu terbang berlomba dengan tali kekangnya
Dengan tombak haus darah yang terhunus di balik lehernya
Kuda-kuda kami terus berpacu dengan kencang
Membuat para wanita mengibaskan debu dari kerudung mereka
Jika mereka membiarkan maka kami berumrah
Dan itulah kemenangan serta tersingkapnya tabir
Jika tidak maka hadapilah peperangan suatu hari
Di mana Allah akan memuliakan siapa yang Dia kehendaki
Allah berfirman, Aku telah mengutus seorang hamba
Yang berkata benar tanpa ada kesamaran
Allah berfirman, Aku telah mengirim pasukan
Orang-orang Anshar yang terbiasa berperang
Apakah orang yang menghina Rasulullah dari kalian
Dengan orang yang memuji dan menolongnya adalah sama
Jibril Utusan Allah ada di pihak kami
Ruhul Qudus yang tidak memilki tandingan
2. Ka’ab bin Zuhair dengan karyanya Qasidah burdah banaat su’aad
3.Abdullah bin az-Zaba’ri diantara perkataanya:
Wahai Utusan Raja Yang Maha Agung
Sungguh lidahku kelu,tidak jua terbuka
Saat itu aku tidak berguna,aku terbujuk rayuan setan dalam menempuh jurang-jurang kesesatan
Dan orang orang yang menempuh jalan setan pasti celaka
4.Khansa
assalamualaikum
BalasHapusnama : MUHAMMAD HUDAPITRA
npm : 180910070005
1. sebelumnya ayat al-syu'ara hum al-ghawun itu salah tulis tentunya. yang benar adalah al syu’araa yattabi’uhum al ghaawun surat asy-Syuaraa ayat 224. maksud ayat ini dan beberapa ayat sesudahnya bukanlah mencela syair dan mengharamkan syair tetapi untuk menjelaskan kepada kita bahwa, syair itu ada 3 kemungkinan.
- penyair itu sesat
- penyair itu diikuti oleh orang sesat
penyair itu sesat dan diikuti oleh orang sesat maksudnya adalah mereka menggunakan syair mereka hanya untuk mencaci maki, baik agama maupun diri mereka sendiri. kemudian mereka lebih senang mencipta syair daripada mereka belajar quran maupun hadis.
- penyair itu beriman, penyair yang beriman adalah penyair yang menggunakan syairnya untuk membela agama Allah dan rasulnya.
2. turunnya al-quran membawa perubahan baru dalam syair, kosakata bahasa arab seperti muslim, kafir muncul. kemudian syair-syair yang vulgar mulai dihindari dengan syair-syair yang menjunjung tinggi islam.menjunjung tinggi syariat islam.
penyair yang terkenal pada masa islam adalah hasan bin tsabit, dan dia adalah penyair rasulullah.
salah satu syairnya berbunyi ketika akan terjadi peristiwa fathul makkah:
Kami akan musnahkan kuda-kuda kami
jika kalian tidak melihatnya menghempaskan debu menuju Kada’
Walaupun kalian menghalangi jalan kami, kami akan tetap berumroh
dan membuka kota Mekkah hingga tersingkaplah kebenaran
Namun jika kalian tetap menghalangi maka bersabarlah terhadap hari yang ganas
dan Allah selalu menolong siapa saja yang dikehendaki-Nya
Jibril Sang Utusan Allah selalu bersama kami
dan Ruhul Qudus takkan ada yang menandinginya
Allah berkata bahwa ia telah mengirimkan utusan-Nya
demi menyampaikan kebenaran bagi siapa yang membutuhkannnya
Aku disini bersaksi atas kerasulannya maka mari berdiri dan bersaksilah
namun kalian mengatakan “kami tidak akan berdiri dan tak mau bersaksi”
Allah telah berkata bahwa ia telah mengirimkan pasukan
mereka adalah kaum Anshar yang kepiawaiannya bertempur
selain hasan, ada ka'ab bin zuhair, abdullah bin zaba'ri, dan khansa
assalamu'alaikum
BalasHapusnama : Feti Fatimatuzzahroh
NPM : 180910070044
1. dalam ayat tersebut ada kata yang terlewat,yaitu yattabi'uhum yang terdapat dalam surat As-Syu'ara ayat 224, dijelaskan bahwa para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat, karena yang dikatakan para penyair adalah sebuah kebohonyan dan berdasarkan daya hayal mereka yang tinggi. oleh karena itu, Allah menjelaskan pada ayat selanjutnya bahwa "tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya? al-Qur'an juga menerangkan bahwa ada para penyair yang beriman dan berbuat amal saleh, dan mereka adalah orang-orang yang tidak diikuti oleh orang-orang yang sesat.
2. pada masa sadhrul islam, rasulullah datang dengan membawa al-Qur'an yang mempunyai gaya bahasa dan sastra yang tinggi. pada masa itu, para penyair banyak yang meninggalkan kepenyairannya karena melihat katinggian bahasa al-qur'an.
Para penyair pada masa ini yaitu ka’ab bin zuhair, al-khunsa, hasan bin tsabit,
Contoh karya ka’ab bin zuhair :
لَوْ كُنْتَ أَعْجَبَتْ مِنْ شَيْئٍ لأَعْجَبْنَ سَعِى الْفَتَى وَهُوَ مَخْبُوْءُ لَهَ القَدَرُ
يَسْعَى الفَتَى لأُمُرٍ لَيْسَ يُدْرِكُهَا وَالنفسُ وَاحِدَةٌ وَلَهُمْ مُنْتَشِرُ
فالمَرْءُ مَا عَاشَ مَمدُوْدٌ لَهُ أَمَلُ لاَ يَنْتَهِى الْعُمْرُ حَتَّى يَنْتَهى الأثَرُ
bismillahirrohmanirrohim.
BalasHapusnama : Reni Supriyani
NPM : 180910070002
1. dalam ayat as-syu'araa hum al-ghoowuun, itu tidak ada tentunya, yang ada adalah as-syu'araa yattabi'uuhum al-ghoowuun, yang terdapat pada ayat 224. dan menjelaskan tentang para penyair yang diikuti oleh orang-orang yang sesat. karena para penyair mengatakan semua karyanya itu hanya fiktif belaka dan hayalan tingkat tinggi, mereka pun lebih senang belajar membuat syair daripada belajar al-qur'an dan hadits yang lebih bermanfaat. maka dari itu, Allah menjelaskan dalam firman-Nya pada ayat selanjutnya yaitu ""tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya?"
Allah pun menjelaskan bahwasanya penyair yang beriman adalah penyair yang berbuat amal saleh serta tidak diikuti oleh orang-orang yang sesat.
2. pengaruh al-qur'an terhadap syair jahily pada masa shadrul islam adalah menambah keunggulan syair tersebut menambahkan kosakata menjadikan para penyair masuk islam dan berakidah, sehingga banyak penyair lebih menggemari al-qur'an dari pada syair, karena indahnya gaya bahasa al-qur'an itu sendiri.
juga syair yang bernuansa vulgar dihilangkan dengan syair yang lebih bernuansa islami. seperti syairnya Nabighoh al-Ju'di:
خَلِِيْلَى َّ عَوجَا سَاعَةُ وَتَهْجُوْرَ
وَنَوْحًا عَلَى مَا أَحْدَثَ الدَّهْرُ أَوْ ذرَ
وَلاَ تَجْزَعَا إِنَّ الْحَيَاةَ ذَمِيْمَةٌ
فَخَفَا لِرِوْعَاتِ الحَوَادِثِ أَوْ قَرَا
وَإِنْ جَاءَ أَمْرٌ لاَ تَطِيْقَانِ دَفْعَهُ
فَلاَ تَجْزَعَا مِمَا قَضَى اللهُ وَاصْبِرَا
assalamu'alaykum.
BalasHapusnama : Evi Lutfiah
NPM : 180910070053
1. menurut saya, dalam ayat tersebut terdapat kekeliruan dalam penulusannya. ayat tersebut merupakan salah satu ayat dari surat al-Syu'ara ayat 224 yakni "as-syu'araa yattabi'uuhum al-ghoowuun" ayat tersebut menerangkan bahwa para penyair itu telah diikuti oleh orang-orang yang sesat, karena yang mereka sampaikan dalam syairnya adalah sebuah kebohongan dan dilahirkan berdasarkan daya hayal mereka yang tinggi. oleh karena itu, selanjutnya Allah melanjutkan penjelasan-Nya bahwa "tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya?"
disini diterangkan bahwa mereka itulah orang-orang yang ssat dan menyesatkan dalam hal lain al=qur'an juga menjelaskan bahwa ada juga para penyair yang tidak diikuti oleh orang-orang sesat. mereka itu adalah para penyair yang beriman dan berbuat amal sholeh.
2. pengaruh al-Qur'an terhadap persyairan pada masa shadrul islam terasa ketika rosulullah datang dengan membawa wahyu yang diturunkan Allah yaitu al-Qur'an. dan sudah pasti isi al-quran itu lebi indah dan memiliki ketinggian bahasa dibandingkan syair manapun maka dari itu, para penyair yang melihat hal itu mulai terinspirasi dengan kehalusan bahasa al-Quran dan ini berpengaruh terhadap syair-syair yang dilahirkan mereka.
contoh penyair masa shadrul islam, Jarir bin 'athiyyah
بِأَنَّ الْخَلِيْطَ طَوَّعَتْ مَا بَانا
وَقَطَعُوْا مِنْ حِبَالِ الْوَصْلِ أَقْرَانَا
يا أُمَُّ عَمْرُو جَزَاكِ اللهُ صألِحَةً
رُدَّى عَلَى فَؤَادِى كَالذِى كَانَ
لَقَدْ كَتَمْتِ الْهَوَى حَتَّى تَهِيمِى
لاَ أَسْتَطِيْعُ لِهَذَا الحُبُّ كِتْمَانَا
لاَ بَارَكَ الله فِى الدُّنْيَا إِذَا إِنقَطَعَتْ
أَسْبَابُ دُنْيَاكَ مِنْ أَسْبَابِ دُنْيَانَا
Dalam petikan ayat dari surah al-Syu'ara di atas memang ada yang terlewat dan sudah diperbaiki. Syukran 'ala ihtimamikum.
BalasHapusBismillahirohmaanirrohiim….
BalasHapusNama : Imas Tini Sholihat
NPM : 1809.1006.0005
1.Menurut saya ayat tersebut menjelaskan bahwa para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat, karena yang dikatakan para penyair adalah sebuah kebohongan dan berdasarkan daya hayal mereka yang tinggi. oleh karena itu, Allah menjelaskan pada ayat selanjutnya bahwa "tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya? al-Qur'an juga menerangkan bahwa ada para penyair yang beriman dan berbuat amal saleh, dan mereka adalah orang-orang yang tidak diikuti oleh orang-orang yang sesat.
2.Turunnya al-Quran membawa perubahan yang besar dalam syair, kosakata bahasa arab banyak yang bertambah seperti muslim, kafir, dsb. Tidak sedikit para penyair yang masuk islam setelah Al-Qur`an datang karena terkagum-kagum oleh ketinggian bahasa dan sastranya. Para penyair menggunakan syairnya untuk menyebarkan aqidah dan hukum yang ada dalam al quran agar orang-orang mengikuti islam, untuk membangkikan semangan berperang mencari syahid dalam meninggikan agama Allah, mebela Nabi dan Islam dari celaan para penyair kafir,seperti halnya Khansa ketika Islam sudah datang syairnya berisi tentang ratapan-ratapan untuk para syuhada yang gugur di medan perang. Salah satu penyair masa Shadru islam adalah Khansa. Berikut salah satu karyanya.
يا عَينِ ما لَكِ لا تَبكينَ تَسكابا؟
اِذْ رابَ دهرٌ وكانَ الدّهرُ ريَّاباَ
يا عَينِ ما لَكِ لا تَبكينَ تَسكابا؟
وابكي اخاكِ اذا جاورتِ اجناباَ
فابْكي أخاكِ لأيْتامٍ وأرْمَلَة ٍ،
فقدْنَ لَّما ثوى سيباً وانهاباَ
وابكي اخاكِ لخيلٍ كالقطاعُصباً
bismilahissalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
BalasHapusdian perdana
180910070033
1.sebelumnya ayat al-syu'ara hum al-ghawun itu salah tulis pastinnya. yang benar adalah al syu’araa yattabi’uhum al ghaawun surat asy-Syuaraa ayat 224. maksud ayat ini dan beberapa ayat sesudahnya bukanlah mencela syair dan mengharamkan syair tetapi untuk menerangkan kepada kita bahwa, kemungkinan.penyair itu sesat,penyair itu diikuti oleh orang sesat
penyair itu sesat dan maksudnya adalah mereka menggunakan syair mereka hanya untuk mencaci maki, baik agama maupun diri mereka sendiri. kemudian mereka belajar quran maupun assunah.
penyair yang berakhlak dan beriman.mereka membela agama allah dan utusannya tidak untuk mencaci atau sejenisnya untuk menjatuhkan.
2. turunnya al-quran sangat membawa perubahan baru dalam syair, banyak yang syairnya terlalu bebas atau semaunya tapi sekarag agak dikurangi bahkan tidak ada sama sekali,karena terpana dengan bahasa al quran yang tinggi dan indah sampai-sampai tiada yang menandinginya atau menirunnya walau ayah inilah mukjizat yang tiada bandingannya bahkan ada yang langsung menjadi muallaf ketika mendengar ayat-ayat al quran pada zaman tersebut subhanallah.
penyair Abu Atahiyah
Wahai orang yang membaca beberapa bukunya
ALLAH telah memerintahkan, namun mereka tidak menjalankannya
ALLAH telah menjelaskan kemurkaan-Nya
Kepada orang yang memerintahkan kebenaran, namun dia tidak menjalankannya
Barang siapa yang perkataannya tidak sesuai dengan tindakannya
Maka diam adalah lebih baik baginya.
Tugas UAS Muhadatsah
BalasHapusDesi Dhuhamita
180910070023
حكايات جحا
دات يوم صعد جحا الى المنبر وقال للناس
هل تعرفون ما ساقول لكم؟
الناس لالالالالالالالا
جحا انتم لاتعرفون ماسأقول لكم فلمادا اتعب نفسي وأخبركم ماأريد أن أخبركم؟
نزل جحا وفي اليوم الموالي صعد ثانية وقال للناس
هل تعرفون ما سأقول لكم؟
الناس نعم نعم نعم نعم
جحا ادأنتم تعرفون ماسأقول لكم فلمادا أخبركم؟
نزل جحا
اتفق الناس أن يقول فريق نعم وفريق لا.
وفي اليوم الثالث صعد جحا المنبر وقال للناس.
هل تعرفون ما سأقول لكم؟
الناس لالالانعم نعم نعم لالالالا نعم نعم
انقسم الناس من نعم ولا
فقال جحا
على الدين يعلمون أن يخبروا الدين لايعلمون
وتحياتي لكم
***
Pak, tugas yg sinonim menyusul sebentar lagi
sedang dalam proses,
to be continue...